HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Mengusap Khuff atau Membasuh Kaki? Mana yang Lebih Utama Menurut Madzhab

Disebutkan dalam at-Taudhih al-Muqni' 1/313-315:

Mengusap khuff lebih utama daripada membasuh — menurut pendapat yang shahih dalam mazhab. Imam Ahmad menegaskan hal ini, dan ini termasuk mufradat (pendapat khusus mazhab Hanbali).

Dalam Masa'il al-Kawsaj disebutkan: Aku bertanya: “Apakah mengusap lebih utama atau membasuh?”

Beliau (Imam Ahmad) menjawab: “Mengusap adalah ittiba' (mengikuti sunnah). Jika seseorang meninggalkannya karena tidak menyukainya, maka itu adalah tanda orang yang menyelisihi (sunnah).

Adapun orang yang meyakini bolehnya mengusap, lalu ia memilih melepas khuff dan membasuh (kakinya), maka tidak mengapa.”

Dan bagi kalangan Hanabilah terdapat tiga dalil:

  1. Nabi dan para sahabatnya hanya mencari yang lebih utama.
  2. Karena beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai ketika rukhsah-Nya diambil (diamalkan).”
  3. Mengusap khuff mengandung unsur menyelisihi ahli bid'ah.

Dalam riwayat lain: keduanya sama dalam keutamaan.

Dalam riwayat lain: membasuh lebih utama; ada yang mengatakan: itu merupakan pendapat terakhir beliau (Imam Ahmad).

Aku (penulis) berkata:

Aku jauhkan (aku anggap kecil kemungkinannya) itu sebagai pendapat terakhir beliau; karena sunnah tentang mengusap sangatlah jelas.

Dikatakan pula: Apabila seseorang tidak terus-menerus melakukan mengusap (khuff), maka membasuh lebih utama — ini adalah pilihan Al-Qadhi.

Syaikh Taqiyuddin (Ibnu Taimiyah) berkata:

“Kesimpulan (yang benar) adalah:

Yang paling utama bagi setiap orang adalah apa yang sesuai dengan keadaan kakinya.

Maka yang lebih utama bagi orang yang kedua kakinya terbuka (tidak memakai khuff) adalah membasuh keduanya, dan ia tidak sengaja memakai khuff hanya demi bisa mengusap—sebagaimana Nabi ï·º, apabila kedua kakinya terbuka, beliau membasuhnya, dan apabila beliau memakai khuff, beliau mengusap keduanya.”

Makna serupa ditegaskan oleh Ibnul Qayyim.

Akan datang komentar (penjelasan) terhadap ucapan kedua syaikh tersebut.

Perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini:

Pendapat pertama:

Mengusap khuff lebih utama daripada membasuh.

Ini adalah mazhab Hanabilah, dan termasuk al-mufradat mazhab, sebagaimana telah disebutkan.

Ini juga merupakan pendapat Asy-Sya'bi, Al-Hakam, dan Ishaq.

Dalil mereka: telah lalu penjelasannya.

Pendapat kedua:

Membasuh lebih utama daripada mengusap.

Ini adalah mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Dalil mereka: membasuh adalah yang difardukan dalam Kitabullah, dan itu pula yang lebih sering dilakukan Nabi; sedangkan mengusap hanyalah rukhsah.

Pendapat ketiga:

Yang lebih utama bagi setiap orang adalah apa yang sesuai dengan keadaan kakinya.

Pendapat ini telah disebutkan sebelumnya; dan ini adalah pilihan Ibnu Taimiyah serta muridnya Ibnul Qayyim.

Pendapat yang rajih:

Apa yang disebutkan oleh Ibn Taimiyah dan murid beliau Ibnul Qayyim tampak hanya merupakan bentuk penyimpulan dari hal yang sama; karena pada hakikatnya itu adalah mazhab Hanabilah.

Sebab, maksud para Hanabilah adalah: siapa yang sedang memakai khuff, maka ia mengusapnya dan tidak melepasnya untuk membasuh kakinya—

dan mereka tidak bermaksud menganjurkan seseorang untuk memakai khuff demi bisa mengusap, sebagaimana telah diketahui.

Dengan demikian, kedua pendapat tersebut (pendapat Hanabilah dan pendapat Ibn Taimiyah–Ibnul Qayyim) pada hakikatnya sama menurut apa yang tampak bagiku.

Karena itu, Ibn Taimiyah sendiri berkata dalam Syarh al-‘Umdah ketika mengomentari masalah yang sama:

“Adapun orang yang tidak memakai khuff, maka tidak dianjurkan baginya untuk memakainya dengan tujuan agar dapat mengusap, sebagaimana tidak dianjurkan pula baginya untuk melakukan safar hanya untuk bisa mengqashar.”

Maka jelas bahwa permasalahan ini berlaku bagi orang yang memang sedang memakai khuff, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Kini tinggal membandingkan pendapat jumhur dengan mazhab Hanabilah.

Dan pendapat yang rajih menurutku, tanpa keraguan, adalah mazhab Hanabilah.

Sebab, Nabi ï·º tidak melepas khuff untuk membasuh, tetapi beliau mengusap—demikian pula para sahabat beliau.

Hal ini telah diketahui dari sunnah.

Seandainya yang lebih utama adalah membasuh, tentu syariat akan menunjukkan hal tersebut — baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Imam Ahmad berkata:

“Mengusap lebih utama daripada membasuh; karena Nabi ï·º dan para sahabatnya senantiasa mencari keutamaan.”

Az-Zarkasyi berkata:

“Imam kami —rahimahullah— benar-benar sangat menekankan ittiba' terhadap sunnah, sebagaimana kebiasaan beliau.

Maka beliau menjadikan mengusap lebih utama daripada membasuh dalam salah satu riwayat, dan inilah kecenderungan kedua syaikh (Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim), karena mereka mengambil rukhsah dan untuk menyelisihi ahli bid'ah yang melarang hal tersebut.”

Karya Tulis
IDR 10.000
Syahrijal Ahmad Syuhada
IDR 20.000
Syahrijal Ahmad Syuhada
IDR 30.000
Syahrijal Ahmad Syuhada
IDR 75.000
Syahrijal Ahmad Syuhada
IDR 110.000
Syahrijal Ahmad Syuhada
IDR 25.000
Syahrijal Ahmad Syuhada